7 dosa besar mall

Wisata kuliner keliling Jakarta? Atau jangan-jangan ke Mall? Wah… kalau memang sering ke Mall, bersamaan dengan dibacanya tulisan ini, mungkin perlu direnungkan lagi perjalanan kita selanjutnya. Semua pasti ada negatif-positifnya, tapi jumlah Mall yang ada di Jabodetabek sudah seharusnya dipikir ulang. Apakah Mall itu solusi kebosanan atau justru keterpaksaan kita karena minim alternatif tempat kumpul dan cuci mata. Perjalanan kita kali ini akan membawa kita ke pelosok Mall-Mall handal di Jakarta. Ekspedisi kali ini menghasilkan sesuatu yang sedikit beda dari tips-tips perjalanan. Kita mau kasih tahu dosa-dosa apa saja dalam diri Mall-mall yang sekarang menjamur itu. Inilah 7 dosa mereka:

1. Energy wasted ( Buang – Buang tenaga )

Sadar atau tidak, Mall yang sering kamu kunjungi itu membutuhkan listrik dan air untuk membuatnya tetap layak dikunjungi. Ayo kita hitung berapa banyak lampu di dalamnya? Berapa banyak alat elektronik yang harus menyala agar kita betah berlama-lama? Taruhan, pasti kamu kewalahan menghitungnya. Selain listrik, kamar mandi, tempat cuci tangan, dan acara bersih-bersih membutuhkan air yang tidak sedikit. Sayangnya, air yang mereka gunakan berasal dari tanah di sekitarnya. Ckckckck… Energi yang mereka gunakan juga akan menghasilkan sisa-sisa pembuangan. Tidak hanya limbah kimia, hasil pembuangan para pengunjungnya pasti menghasilkan bergunung-gunung sampah.

2. No holiday for employee ( Ga ada liburan buat pegawainya )

Saat kamu mengunjungi suatu gerai, pernahkah kamu berpikir berapa lama penjaga tokonya bekerja? Kalau sebuah mall buka dari jam 10 pagi sampai 10 malam saja, mereka sudah bekerja 12 jam. Meskipun ada pembagian jam kerja (shift), mereka tetap saja bekerja pada hari libur bahkan hari besar keagamaan. Kenapa? Karena pemilik mall tahu, hari libur adalah saat jumlah pengunjung memuncak. Meliburkan mereka berarti merugikan perusahaan. Kita dengan asyiknya window shopping di hari libur tetapi mereka terus bekerja. Mall memang menyerap banyak tenaga kerja, tapi bukan berarti mereka tidak butuh rekreasi bukan?

3.Thousands of unknown yet stylish brand ( banyaknya barang barang aneh )

Zaman Orang tua atau kakak kita SMA dulu merk-merk yang dikenal dan ada di pusat perbelanjaan jumlahnya masih sedikit bahkan cenderung itu-itu saja. Beda dengan keadaan sekarang. Mall dipenuhi oleh merk-merk baru yang kita dengar dari media bahwa merk tersebut terkenal dan cool di daratan eropa sana. Sebut saja merk high-street fashion dengan inisial Z atau Tp. Koleksi yang mereka jual memang sangat masa kini dan stylish. Soal gaya kita jadi tidak ketinggalan dengan anak muda di luar sana. Tapi kita jadi lebih tahu produk dan merk impor daripada produk buatan negeri sendiri. Padahal banyak dari merk luar yang pembuatannya di Indonesia lho…

4. Tempting Sale ( diskon yang menggoda )

Yang namanya diskon selalu hadir mengetuk pintu di awal, pertengahan, dan akhir taun. Katanya sih untuk menghabiskan koleksi lama yang belum terjual… Harga dipotong mulai dari 10-70% agar kita antusias menghabiskan stok tersebut. Saat diskon memang saat yang tepat untuk membeli barang tetapi hati-hati, karena diskon tidak selamanya jujur. Sebelum memasang label diskon, pihak penjual biasanya menaikkan harga aslinya terlebih dahulu.

5. Land decrease ( makan lahan )

Konsep tanah lapang tempat berkumpul warga kota pada zaman dahulu- yang sering disebut Alun-Alun, sudah digantikan oleh Mall (bahkan ada alun-alun dalam Mall!). Kalau pergi ke Alun-alun tidak perlu sepeser uang, tetapi untuk pergi ke mall pasti kita mengeluarkan uang, walaupun hanya untuk parkir kendaraan. Tanah kosong yang bisa digunakan untuk bermain bola atau sekedar berkumpul harus mengalah untuk tempat hiburan yang lebih canggih. Belum lagi soal tanah sebagai daerah resapan air yang semakin hari makin sedikit jumlahnya.

6. Dream Store ( tokok impian )

Siapa yang nggak suka window shopping? harus kita akui bahwa kegiatan ini memang memberi kepuasaan tersendiri. Cuci mata lihat baju yang lucu-lucu tapi kok harganya ngalahin uang jajan kita sebulan ya? Begitu bagus model barangnya sehingga kita jatuh cinta pada pandangan pertama, mau tidak mau kita pasti memimpikannya. Ada gap (jarak) antara benda yang sudah kita punya dengan benda yang tidak kita punya. Pulang dari Mall, kita membayangkan benda apa yang harus kita miliki selanjutnya.

7. Small scale economy killer ( tempat kecil membunuh kantong kita )

Kapan terakhir kali kita ke pasar atau pusat perbelanjaan tradisional? Hmmm… mungkin setahun sekali atau sama sekali tidak pernah. Kehadiran Mall yang lebih nyaman, bersih dan keren membuat kita lupa bahwa di pasar (selain pasar senen) menyimpan banyak harta karun. Seperti pusat perbelanjaan Blok M atau Melawai yang terbakar dan digantikan oleh pusat perbelanjaan modern. Usaha kecil tentu tidak bisa bersaing dengan gerai-gerai di Mall yang terlihat lebih bergengsi.


sumber

%d bloggers like this: