Tips Mengatasi Demam Facebook Pada Anak Praremaja

Kekhawatiran orang tua menghadapi anak yang tergila-gila facebook dan chatting biasanya diikuti dengan larangan atau pemutusan akses internet, seperti penghentian berlangganan internet dan memotong uang pulsa. Namun efektifkah larangan yang ditetapkan tersebut? Benarkah anak akan mematuhinya atau malah mencari jalan lain untuk memuaskan kecanduan facebooknya?.

Sudahkah orang tua memahami arti teman bagi seorang praremaja?. Facebook adalah media yang sangat mengasyikan bagi mereka untuk “bertemu” dengan teman-temannya. Pembicaraan yang nyambung, istilah-istilah yang seru yang hanya dimengerti oleh mereka, membuat mereka menjadi terikat dan diakui keberadaannya tanpa orang lain perlu tahu identitas dia yang sebenarnya.

Pertimbangkanlah manfaat yang diperoleh anak sebelum anda melarangnya. Dengan chatting, anak yang introvert bisa berubah menjadi lebih komunikatif, terlatih untuk menulis dan juga mempunyai kesempatan memiliki teman seluas-luasnya, sekaligus bisa mengasah keterampilan berbahasa asing.

Jika anak dilarang biasanya akan menimbulkan rasa penasaran yang lebih besar. Mereka akan mencari jalan lain supaya tidak ketahuan orang tuanya seperti membuka facebook di rumah teman, atau rela tidak jajan demi facebook-an dan chatting di warnet.

Berikut ini adalah tips untuk mengatasi demam facebook dan chatting pada anak praremaja :

1. Mind sharing.

Tanyakan kepada praremaja apa yang dia rasakan dan manfaat apa yang dia peroleh dari facebook dan chatting. Dengarkan dengan baik semua yang disampaikannya dan jangan memotongnya. Setelah dia mencurahkan semuanya, ajaklah berdiskusi tentang kerugiannya. Tunjukkan contoh kasus dimana anak seringkali menjadi korban dari chatting di dunia maya.

2. Membuat kesepakatan waktu.

Praremaja perlu juga diajak membuat kesepakatan mengenai aturan waktu kapan dan berapa lama boleh mengakses internet. Dengan adanya aturan waktu, kegiatan-kegiatan lain menjadi tidak terabaikan.

3. Ingatkan untuk tidak memberikan informasi pribadi.

Beri peringatan anak untuk tidak melayani ajakan perkenalan dengan orang lain jika tidak ada rekomendasi dari teman yang dikenalnya. Jangan memberikan alamat rumah, alamat sekolah, dan nomor telepon kepada orang yang baru dikenalnya karena itu bisa menjadi ancaman kejahatan.

4. Letakkan komputer di ruang keluarga.

Mengeluarkan komputer dari dalam kamar anak merupakan langkah yang bijak sebagai salah satu kontrol penggunaan internet.

5. Jadilah contoh yang baik.

Jika orang tua sering menghabiskan waktunya di depan komputer untuk berselancar di dunia maya maka jangan salahkan anak jika mengikuti jejaknya.

6. Dampingi anak.

Luangkan waktu untuk mendampinginya supaya tahu situs apa saja yang menarik baginya.

7. Ajak aktivitas kegiatan yang lain.

Supaya tidak terjerat dalam keasyikan facebook dan chatting, anak harus diberi alternatif kegiatan menarik lainnya seperti berolahraga, bermain musik, outbound, dan lain sebagainya.

8. Hubungi ahlinya.

Jika upaya yang dilakukan untuk menolong anak dari kecanduan facebook dan chatting kurang berhasil, segera hubungi psikolog untuk melakukan konseling. Mereka akan melakukan observasi lebih dalam supaya bisa menemukan jalan keluar yang lebih baik.


sumber

%d bloggers like this: